Teknologi informasi merupakan tulang punggung operasional perusahaan saat ini. Mulai dari skala kecil hingga perusahaan besar. Semakin besar, semakin kompleks arstitektur teknologi informasi. Kelancaran operasional merupakan faktor penting saat ini. Oleh karena itu, operasional TI skala besar memerlukan data center TIER III untuk menjaga kelancaran operasional.

Kenapa Operasional TI Skala Besar Memerlukan Data Center TIER III ?

Data center lebih dari sekedar ruangan server. Sebuah data center akan menjadi tulang punggung operasional TI perusahaan. Kelancaran operasional sangat di butuhkan oleh para karyawan dan konsumen. Dalam era transformasi digital sekarang ini, sedikit saja operasional bisnis terhenti, maka dapat menimbulkan efek buruk yang sangat besar.

Sebuah data center dengan klasifikasi TIER III akan dapat beroperasi terus menerus tanpa gangguan. Kelumpuhan sistem atau downtime, hanya akan merugikan konsumen dan bisnis anda. Biaya per 1 jam downtime dapat mencapai hingga puluhan milyar rupiah. Disini kita sudah dapat melihat pentingnya operasional TI skala besar harus berada pada instalasi data center TIER III yang hanya memiliki tingkat downtime 1.5 jam per tahun.

Data Center TIER I dan TIER II akan memiliki downtime lebih dari 20 jam per tahun. Disni bedanya Data Center TIER III untuk perusahaan yang memerlukan operasional terus menerus tanpa henti.

Klasifikasi TIER III untuk data center bukan merupakan hal yang bisa kita anggap sembarang saja. Hanya sertifikasi dari Uptime Institute yang dapat di percaya sebagai klasifikasi TIER. Jangan sampai terjebak pada sebuah data center yang mengaku TIER III akan tetapi sertifikasinya bukan dari Uptime Institute.

Studi Kasus Tumbangnya Situs Market Place Terbesar di Indonesia

Seperti yang dapat kita lihat pada sebuah data center yang dipakai oleh beberapa situs marketplace terbesar di Indonesia yang mengalami downtime baru-baru ini. Data center yang mereka pakai mengalami kegagalan dalam membangkitkan gen set yang di sebabkan UPS kinetik mereka tidak mampu untuk membangkitkan generator. Hal tersebut meyebabkan situs market place Tokopedia, Bukalapak dan JD ID tidak dapat di akses selama hampir 6 jam.

Data Center yang memang telah memperoleh sertifikasi TIER III, seharusnya melakukan pengecekan sistem disaster recovery paling tidak 2 minggu sekali. Hal ini sangat penting untuk memastikan pembangkit listrik cadangan dapat berfungsi otomatis jika terjadi pemadaman listrik oleh PLN.

Selain serifikasi TIER III dari Uptime Institute, seharusnya sebuah data center memilki sertifikasi internasional lainnya di bidang manajemen dan operasional data center, seperti ISO 27001. Track record sebuah data center jika pernah mengalami total downtime lebih dari 1.5 jam dalam 1 tahun akan sangat perlu anda kritisi sebelum meutuskan untuk menggunakannya.

Menghemat uang perusahaan dalam hal colocation server merupakan hal yang benar. Akan tetapi dalam hal ini, para pimpinan perusahaan sudah mulai harus mempertimbangkan ulang, apakah biaya colocation server yang lebih murah itu benar-benar murah ?, sebab jika terjadi downtime justru biaya yang jauh lebih besar.

Solusi Downtime Data Center

Untuk itu, jika anda masih lebih mengkhawatirkan untuk migrasi ke data center lainnya, anda dapat mempertimbangkan Disaster Recovery as a Service (DRaaS). DRaaS merupakan solusi untuk mitigasi bencana downtime pada operasional TI perusahaan anda. Jika terjadi kegagalan kelistrikan pada colocation data center yang anda gunakan, maka sistem langsung mengalihkan operasional sementara pada situs DRC.

Situs DRC merupakan fasilitas data center TIER III dengan standard yang lebih tinggi. Baik dari teknis, manajemen, maupun para tenaga profesional yang berada pada data center tersebut tidak bisa sembarangan. Situs DRC selalu di audit setiap tahun oleh seluruh Badan yang memberikan sertifikasi pada data center tersebut. Dalam menentukan situs DRC anda juga harus mengetahui lokasi DRCĀ sesuai prinsip terbaik.

Sebuah situs DRC memiliki redundansi atau sember pasokan lebih dari 1 sumber. Baik untuk kelistrikan, pendinginan, maupun jaringan komunikasi data dan suara. Disamping itu, bangunan, tata ruang dan instalasi listrik dan mekanik juga memiliki standard khusus. Biaya untuk DRC hampir mirip dengan biaya colocation, akan tetapi kini sudah ada solusi DRaaS dimana perusahaan hanya akan membayar sebutuhnya saja.

Dengan DRaaS, perusahaan dapat lebih berhemat dalam anggaran mitigasi bencana. Cukup seleksi aset penting apa saja yang akan di cadangkan sesuai prioritas. DRaaS merupakan solusi Disaster Recovery yang paling ideal untuk perusahaan dengan segala ukuran.

Advertisements