Bencana adalah suatu kejadian yang sangat merusak dan tidak dapat diprediksi waktu terjadinya. Karena sifatnya yang tiba-tiba dan tanpa terencana, merupakan suatu keharusan bagi setiap perusahaan untuk memiliki strategi pemulihan bencana. Strategi ini yang akan menentukan kelangsungan suatu perusahaan apabila bencana terjadi. Mengamankan pusat data (data center) adalah langkah penting untuk mencegah kelumpuhan sistem dan menjaga keberlangsungan perusahaan. Pusat data adalah suatu fasilitas dimana sistem komputer diletakkan, beserta juga komponen-komponen terkaitnya. Pusat data berfungsi sebagai tempat penyimpanan data perusahaan dan telekomunikasi.

Bentuk Bencana

Bencana terjadi karena dua sebab, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Berikut bencana-bencana yang mungkin bisa terjadi:

  • Bencana alam – Kondisi geografis dan geologis menentukan seberapa parah bencana alam bisa merusak infrastruktur perusahaan. Bencana yang termasuk dalam kategori ini adalah gempa bumi, gunung meletus, tanah longsor, banjir, dan badai topan. Banjir mengakibatkan kegagalan listrik. Begitu halnya dengan badai topan yang bisa menyapu bersih seluruh bangunan dan membuat sambungan listrik terputus.
  • Kebakaran – Faktor lingkungan dan pengaturan sistem kelistrikan bisa mempengaruhi hal ini. Meskipun deteksi asap dan alat pemadam sudah disediakan, namun kebakaran tetap tidak terhindarkan. Korsleting listrik bisa menjadi salah satu pemicunya.
  • Serangan teroris – Disebabkan oleh keamanan fisik yang lemah.
  • Sistem dan perangkat yang rusak – Disebabkan oleh kesalahan manajemen yang mengatur pengawasan perangkat, misal dengan tetap memaksakan suatu alat beroperasi padahal sudah tidak layak dan memerlukan penggantian.
  • Kesalahan operasional – Hal ini akibat ulah manusia. Contohnya adalah kesalahan konfigurasi yang berdampak pada jaringan internet di banyak area.
  • Peretasan – Peretasan sistem banyak terjadi di perusahaan asuransi dan perbankan. Peretasan bisa terjadi akibat lemahnya sistem keamanan dengan membiarkan orang tak berwenang mengakses sistem perusahaan.
  • Virus – Disebabkan oleh pemilihan anti virus yang salah.

Pemulihan bencana (disaster recovery) adalah langkah yang kemudian diambil untuk melanjutkan kelangsungan bisnis. Ketika bencana terjadi, bisnis akan bergantung pada informasi yang tersebar dan aplikasi yang mengolah informasi tersebut. Dalam hal ini, replikasi data adalah solusinya.

Replikasi Data Sebagai Isu Utama Pemulihan Bencana

Data adalah informasi yang sangat krusial bagi sebuah perusahaan. Mereplikasi atau menduplikat data dari pusat data lokal ke lokasi remote data center bisa menyelamatkan kontinuitas suatu perusahaan. Replikasi data menyediakan informasi yang lengkap sebagai tujuan pemulihan bencana. Fungsi replikasi berjalan dalam dua mode:

  • Synchronous

Fungsi replikasi synchronous (sinkron) memungkinkan terjadinya pertukaran data secara langsung. Dengan kata lain, ketika transaksi operasional sedang terjadi di pusat data (disk sumber), maka secara bersamaan data akan terduplikasi di lokasi remote (disk target). Pada mode ini, sistem harus memiliki performa yang tinggi. Jarak antara disk sumber dengan disk target juga harus dipertimbangkan, yaitu berjarak < 100 kilometer. Keuntungan mode ini adalah bisa menyediakan pemulihan yang konsisten dan lengkap.

  • Asynchronous

Mode asynchronous memiliki fungsi yang sama, yaitu mereplikasi data dari disk sumber ke disk target, namun tidak secara langsung. Data yang direplikasi dari disk sumber akan ditampung terlebih dahulu sementara, baru kemudian akan disalurkan ke disk target. Mode ini lebih berisiko, karena apabila terjadi masalah pada salah satu disk sedangkan data belum sempat direplikasi, maka data tidak akan bisa terkirim ke disk target dan data tidak bisa dikatakan sinkron. Keuntungan dari mode ini adalah biaya yang lebih murah.

Fasilitas Pusat Data yang Layak untuk Pemulihan Bencana

Berikut adalah kriteria pusat data yang layak untuk memulihkan bencana:

  • Gedung yang kokoh dan aman – Gedung pusat data harus jauh dari lokasi yang berpotensi banjir. Fisik bangunan juga harus tahan gempa hingga 8,5 skala richter. Tingkat pengamanan juga harus tinggi, yang meliputi akses masuk dan pengamanan terhadap kebakaran.
  • Tim ahli yang berpengalaman – Operator situs pusat data haruslah orang yang profesional dan berpengalaman.
  • Fasilitas kantor sementara – Memiliki kantor lain sebagai cadangan apabila terjadi bencana. Sebelumnya harus dipastikan bahwa sistem dan data dapat dialihkan ke kantor baru.
  • Jaringan komunikasi lebih dari satu provider – Ketika bencana terjadi, provider telekomunikasi mungkin akan terkena dampak yang menyebabkan sistem menjadi lumpuh. Memiliki beberapa provider bisa menyelamatkan perusahaan.
  • Sertifikasi profesional dan fasilitas – Setiap pekerja yang mengakses sistem harus memiliki sertifikasi profesional agar bisa mengakses data sesuai standar prosedur dan mencegah terjadinya suatu kesalahan. Selain para pekerja, fasilitas juga harus memiliki sertifikasi kelayakan penggunaan.

Strategi pemulihan bencana harus memiliki perencanaan untuk jangka panjang dan tidak dapat dilakukan secara singkat. Maka dari itu, setiap perusahaan dihimbau agar mengimplementasikan disaster recovery plan sejak dini. Bencana datang tanpa terduga dan dapat terjadi kapan saja.

Advertisements